Belajar mengenai sejarah tempat-tempat ikonik di Indonesia bisa jadi satu cara yang seru dalam mengenal akar budaya kita. Salah satu lokasi yang cukup ikonik dan dikenal masyarakat luas, adalah Keraton Surakarta yang merupakan peninggalan kejayaan masa lampau. Keraton Surakarta merupakan istana resmi dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Untuk mengenalnya lebih dalam, mari kita bahas satu per satu fakta dan sisi historis dari Keraton Surakarta ini. Tentu saja, tempat ini juga merupakan daya tarik wisata yang kuat di Solo, dan hingga saat ini masih menawarkan pesona unik untuk pengunjung yang datang ke lokasi tersebut.

Sejarah Keraton Surakarta

Sebenarnya sejarah Keraton Surakarta bisa ditarik jauh ke belakang, pada tahun 1677 ketika pemberontakan Trunajaya terjadi. Kesultanan Mataram yang saat itu menguasai area ini kemudian kacau, dan terjadi pemindahan ibu kota oleh Sri Susuhunan Amangkurat II ke Kartasura. Hal ini juga masih mendapat serbuan kembali, dan menghancurkan ibu kota tersebut. Kondisi kemudian memaksa Sri Susuhunan Pakubuwana II untuk membangun istana di Desa Sala.

Pembangunan berjalan cukup lancar, dan setelah Keraton Surakarta selesai, daerah Desa Sala tersebut diganti namanya menjadi Surakarta Hadiningrat. Keraton Surakarta juga menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kesultanan Mataram kepada VOC pada tahun 1749. Enam tahun setelahnya dibuatlah Perjanjian GIyanti, yang menjadikan Keraton Surakarta sebagai istana resmi bagi Kasunanan Surakarta.

Jadi dapat dikatakan, Kasunanan Surakarta merupakan pecahan dari Kesultanan Mataram yang kala itu memiliki wilayah kekuasaan yang besar.

Bentuk dan Arsitektur Bangunan Keraton

Jika dilihat, Keraton Surakarta sendiri termasuk salah satu kompleks istana yang megah dan eksotis, bahkan hingga saat ini. Adalah KGPH Mangkubumi, yang kemudian akan diberikan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I, yang menjadi arsitek utama dalam pembangunan istana ini. Maka tak heran jika dicermati, istana Solo dan istana Yogyakarta memiliki kemiripan pola dasar dan tata ruang.

Pembangunan bertahap dilakukan pada medio tahun 1744 hingga 1755, dan terus berlanjut hingga pemegang kekuasaan selanjutnya. Terakhir, Sri Susuhunan Pakubuwana X, yang berkuasa pada tahun 1893 sampai 1939 yang melakukan restorasi besar-besaran. Sentuhan gaya arsitektur Eropa ditambahkan sehingga Keraton Surakarta memiliki warna dominan putih dan biru.

Kompleks istana ini juga memiliki beberapa bagian besar yang menyatu dalam pola yang sangat harmonis. Beberapa kompleks yang ada di dalam area istana ini adalah sebagai berikut.

  1. Kompleks Alun-Alun Lor : berada di sisi utara, dan meliputi Gapura Gladag, Pengurukan, Alun-Alun Loor, dan Masjid Agung Surakarta.
  2. Kompleks Sasana Sumewa : merupakan bangunan utama terdepan dari Keraton Surakarta, dan digunakan untuk upacara resmi kerajaan.
  3. Kompleks Siti Hinggil : merupakan kompleks yang dibangun di atas tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya dan memiliki dua gerbang. Bangunan utamanya adalah Sasana Sewayana yang digunakan oleh para pembesar dalam menghadiri upacara kerajaan.
  4. Kompleks Kamandungan Lor : Kori Brajanala merupakan gerbang masuk utama ke dalam kompleks ini. Arsitektur menarik tersaji jika Anda cukup cermat mengamatinya.
  5. Kompleks Sri Manganti Lor : lokasi ini berfungsi sebagai tempat para tamu menunggu giliran untuk bertemu atau menghadap raja.
  6. Kompleks Kedhaton : di kompleks ini terdapat banyak sekali bangunan yang digunakan oleh raja untuk beraktivitas.
  7. Kompleks Kemagangan : terdapat sebuah pendhapa di bagian tengah dan digunakan sebagai tempat pelatihan calon pegawai kerajaan.
  8. Sri Manganti Kidul : berupa halaman yang digunakan untuk upacara pemakaman Sri Sunan atau permaisuri.
  9. Kemandungan Kidul : merupakan lokasi berupa lapangan yang bersifat terbuka untuk umum.

Siti Hinggil Kidul : area ini digunakan untuk menghadap para pegawai menengah ke atas dengan pangkat Bupati Lebel. Lokasi ini juga dijadikan tempat penerimaan kenaikan pangkat para pejabat senior, dan kini digunakan untuk aktivitas seni.

Budaya dan Adat yang Ada Di Dalam Keraton

Tentu, sebagai salah satu istana tradisional yang dimiliki Solo, terdapat banyak sekali adat dan budaya yang masih melekat kuat di sana. Warisan budaya dan adat ini terus dilestarikan, dan hingga kini masih dilaksanakan secara rutin menurut kalender penanggalan Jawa.

Beberapa tradisi yang hingga kini masih terus dilakukan adalah Grebeg (diselenggarakan tiga kali dalam setahun untuk menunjukkan rasa syukur atas kesehatan dan rejeki), Sekaten (upacara yang dilaksanakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW), Kirab Mubeng Beteng (perayaan tahun baru kalender Jawa, yang juga dikenal dengan malam 1 Sura), serta pusaka dan tarian sakral yang saat ini jadi koleksi dan beberapa dipamerkan dalam waktu-waktu tertentu.

Sebenarnya Keraton Surakarta memiliki daya tarik budaya yang begitu kental, dan bisa jadi lokasi belajar untuk siapa saja yang datang kesana. Anda bisa mengunjungi istana ini setiap hari, selama tidak ada pemberitahuan untuk tutup. Namun demikian selama pandemi, ada baiknya Anda mengurangi mobilitas untuk sementara waktu, sembari merencanakan liburan yang akan datang. Susun itinerary Anda dengan informasi menarik seperti ini, selengkapnya di Indonesia Travel!